Selasa, 05 Oktober 2010

Ada malaikat...

"Ada malaikat mereka di sorga yang selalu memandang wajah BapaKu yang di sorga."
(Kel 23:20-23a; Mat 18:1-5.10)


"Pada waktu itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya: "Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga?" Maka Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka lalu berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga. Dan barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku." Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di sorga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di sorga." (Mat 18:1-5.10), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta Para Malaikat Pelindung hari ini, saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
• Gambar malaikat sering berupa anak kecil yang bersayap, dengan mata bersinar cerah dan mulut tersenyum, yang menggambarkan kesucian dan kegembiraan serta kegairahan. Bukankah anak-anak kecil masih suci dan belum berdosa sedikitpun? Gambar malaikat tersebut sering berada di atas kepala santo-santa, dengan maksud sebagaimana diwartakan dalam Kabar Gembira hari ini, yaitu "malaikat mereka di sorga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku di sorga". Sebagai orang beriman masing-masing dari kita didampingi oleh malaikat pelindung, yang mengajak dan mendorong kita untuk senantiasa `memandang wajah Allah yang di sorga', artinya mendorong, menjaga dan mengawasi kita agar kita senantiasa setia berbuat baik kepada sesama kita dimanapun dan kapanpun, tanpa pandang bulu. Untuk mengingatkan dan menyadarkan kita bahwa kita didampingi oleh malaikat pelindung, mungkin ada baiknya kita sering menatap anak-anak kita yang masih kecil, yang ceria, dinamis, menggembirakan, menarik dan mempesona. Dengan kata lain sebagai orang yang didampingi oleh malaikat pelindung kita diharapkan seperti anak kecil, yang ceria, dinamis, menggembirakan, menarik dan mempesona. Jika masing-masing dari kita mengimani dan menghayati pendampingan malaikat pelindung ini, maka kebersamaan hidup kita dimanapun dan kapanpun senantiasa menggembirakan, menarik dan mempesona, karena kita dengan rendah hati senantiasa berusaha untuk saling berbuat baik satu sama lain. Percaya kepada malaikat pelindung antara lain juga berarti ketika saya sendirian, entah siang atau malam, tidak pernah takut dan gentar, serta tidak pernah berbuat jahat atau melakukan tindakan amoral atau hidup seenaknya, bermalas-malasan.
• "Sesungguhnya Aku mengutus seorang malaikat berjalan di depanmu, untuk melindungi engkau di jalan dan untuk membawa engkau ke tempat yang telah Kusediakan" (Kel 23:20), demikian firman Allah kepada bangsa terpilih, yang sedang dalam perjalanan menuju tanah terjanji. Sebagai manusia kita berasal dari Allah dan diharapkan kembali kepada Allah setelah meninggal dunia nanti. Dengan kata lain hidup ini adalah perjalanan, dan di dalam perjalanan sering terjadi aneka perubahan, tantangan dan hambatan serta masalah, yang dapat mengganggu perjalanan kita. Allah mengutus malaikatNya berjalan di depan kita, mendahului perjalanan kita, dan kita diharapkan setia mengikutinya. Malaikat Allah tersebut antara lain secara konkret dapat berupa aneka macam petunjuk atau tata tertib yang ada di dalam perjalanan, maka jika kita mendambakan selamat sampai di tujuan marilah kita taati dan ikuti sepenuh hati aneka petunjuk dan tata tertib tersebut. Malaikat Allah juga menjadi nyata dalam diri saudara-saudari kita yang baik atau berkehendak baik, yang dapat kita temui atau jumpai dimanapun dan kapanpun. Maka ketika kita bingung atau frustrasi atau putus asa di dalam perjalanan hidup, panggilan dan tugas pengutusan, hendaknya tidak malu untuk bertanya atau minta bantuan kepada saudara-saudari kita yang berkehendak baik tersebut. "Malu bertanya sesat di jalan", demikian kata sebuah pepatah. Kita kiranya dapat belajar dari para pilot yang setia mengikuti petunjuk perjalanan, sebagaimana diperintahkan dari menara pengawas di bandara-bandara maupun yang ditunjukkan di dalam radar atau computer perihal cuaca dll… Pilot sungguh mentaati dan melaksanakan petunjuk-petunjuk perjalanan yang ada sehingga pesawat beserta penumpangnya selamat sampai tujuan. Ruang perjalanan di angkasa sangat luas, namun pilot tidak dapat seenaknya memilih jalan yang harus dilewati.

"Orang yang duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi dan bermalam dalam naungan Yang Mahakuasa akan berkata kepada TUHAN: "Tempat perlindunganku dan kubu pertahananku, Allahku, yang kupercayai." Sungguh, Dialah yang akan melepaskan engkau dari jerat penangkap burung, dari penyakit sampar yang busuk. Dengan kepak-Nya Ia akan menudungi engkau, di bawah sayap-Nya engkau akan berlindung, kesetiaan-Nya ialah perisai dan pagar tembok." (Mzm 91:1-4)

MENDEKAP ATAU MERONTA

MENDEKAP ATAU MERONTA

Suatu pagi seorang ayah mencoba menolong burung gereja yang terluka di
depan rumahnya. Digenggamnya burung itu, tetapi ia terus meronta ketakutan
lalu terbang sebelum sempat diobati. Sore harinya sang ayah membawa
putrinya yang sakit ke dokter. Anak itu pun ketakutan melihat dokter akan
memberinya suntikan. Ia mendekap ayahnya erat-erat. Sang ayah memeluk
sambil mengusap kepalanya. "Tenang, Sayang. Tahan sebentar, " katanya. Hari
itu sang ayah berhasil me-nolong putrinya yang sakit, tetapi gagal menolong
si burung gereja. Sebab si anak mendekapnya di kala sakit, sedang si burung
gereja meronta dan meninggalkannya.

Setiap orang bisa merasa sakit hati ketika apa yang ia inginkan tidak
kesampaian. Saat doanya tidak dikabulkan Tuhan dan orang sekitar tidak
mendukung. Dalam menghadapi kekecewaan, ia dihadapkan dengan dua pilihan.
Pertama, bersikap memberontak. Rasa kecewa dan tertolak membuatnya menjauhi
Tuhan dan bersahabat dengan dunia (ayat 4, 5). Kadang juga bersengketa
dengan mereka yang dianggap menjadi penghambat (ayat 1, 2). Pilihan kedua,
mendekat kepada Allah (ayat 8).

Dengan rendah hati ia belajar menerima kenyataan bahwa keinginannya bukan
kehendak Tuhan. Cara ini memulihkan, sebab ketika ia mendekat pada Tuhan,
Tuhan pun akan mendekat ke-padanya. Ketika Tuhan menjawab "tidak", apa yang
Anda lakukan? Apakah hidup yang sulit telah membuat Anda undur dari-Nya?
Selama Anda menjauh, hidup tidak akan menjadi semakin baik. Mendekatlah
kepada Tuhan, supaya Dia dapat memulihkan Anda dari sakit hati Anda --

TIDAK DIKABULKANNYA DOA MENIMBULKAN MASALAH KECIL
TIDAK MENERIMA KEHENDAK TUHAN MENIMBULKAN MASALAH BESAR

Yakobus 4:1-10

1 Dari manakah datangnya sengketa dan pertengkaran di antara kamu?
Bukankah datangnya dari hawa nafsumu yang saling berjuang di dalam
tubuhmu?
2 Kamu mengingini sesuatu, tetapi kamu tidak memperolehnya, lalu
kamu membunuh; kamu iri hati, tetapi kamu tidak mencapai tujuanmu,
lalu kamu bertengkar dan kamu berkelahi. Kamu tidak memperoleh
apa-apa, karena kamu tidak berdoa.
3 Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena
kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan
untuk memuaskan hawa nafsumu.
4 Hai kamu, orang-orang yang tidak setia! Tidakkah kamu tahu, bahwa
persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi
barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan
dirinya musuh Allah.
5 Janganlah kamu menyangka, bahwa Kitab Suci tanpa alasan berkata:
"Roh yang ditempatkan Allah di dalam diri kita, diingini-Nya
dengan cemburu!"
6 Tetapi kasih karunia, yang dianugerahkan-Nya kepada kita, lebih
besar dari pada itu. Karena itu Ia katakan: "Allah menentang orang
yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati."
7 Karena itu tunduklah kepada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia
akan lari dari padamu!
8 Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu.
Tahirkanlah tanganmu, hai kamu orang-orang berdosa! dan sucikanlah
hatimu, hai kamu yang mendua hati!
9 Sadarilah kemalanganmu, berdukacita dan merataplah; hendaklah
tertawamu kamu ganti dengan ratap dan sukacitamu dengan dukacita.
10 Rendahkanlah dirimu di hadapan Tuhan, dan Ia akan meninggikan
kamu.