Selasa, 15 November 2011

Mujizat Keluarga

Mujizat Keluarga

"Sesungguhnya keluarga kita adalah sebuah mujizat. Boleh dikatakan, keluarga adalah pemberian terindah dari semua yang kita miliki. Orangtua pemberi hidup, anak milik pusaka dan istri adalah kasih karunia.  Di dalamnya kita dilahirkan, dibesarkan dan mengenal kasih dan menikmati Anugerah" (JS)Pernahkah Anda membayangkan bagaimana Tuhan mempertemukan pria dan wanita, lantas menumbuhkan cinta di antara mereka? Pernahkah anda perhatikan Tiap pasangan memiliki cara masing-masing sehingga mereka akhirnya saling tertarik dan ingin selalu bersama seumur hidup.

MUJIZAT

Perkawinan adalah mujizat Allah yang terdiri atas anugerah, pemberian, dan penghiburan Ilahi. Kehadiran Tuhan dalam pernikahan dan keluarga kita  membuat  hidup sungguh  bermakna.

Pernikahan yang berbahagia memiliki aspek pertumbuhan di dalamnya. Pria dan wanita yang berasal dari planet berbeda ini berusaha hidup bersama, saling memahami, belajar mengampuni, dan bertumbuh. Lewat suka dan duka, untung dan malang.  Bukankah itu semua tidak terjadi jika mereka tidak hidup bersama dalam ikatan berkawinan?

Anak-anak yang lahir dalam sebuah pernikahan juga  mujizat. Mereka tidak hadir secara kebetulan. Ada maksud Allah yang Mahatinggi dalam tiap keluarga.

Orangtua kita adalah suatu anugerah mujizat. Bahkan hidup dan dibesarkan dalam sebuah keluarga juga sebuah mujizat. Tidak ada yang kebetulan dari kelahiran kita.

Bayangkan, bagaimana sepasang ayah-ibu belajar mengandalkan Tuhan dalam mendidik dan membesarkan anak-anak mereka! Alangkah tidak mudahnya mendidik anak di era ini. Betapa kita membutuhkan mujizat Allah agar anak-anak kita dapat mengerti rencana Allah dalam hidup mereka! Bergantung pada anugrahNya setiap hari.

DINAMIS

Dinamika yang terjadi dalam sebuah perkawinan bukan saja mengubah sistem keluarga, tetapi yang terutama adalah menumbuhkan  orang-orang yang ada di dalam institusi itu. Seperti kesaksian seorang Istri tentang suami dan perkawinannya.

"Kamu mengenalkan aku pada apa yang dinamakan cinta," kata seorang wanita tentang pasangan hidupnya.

"Sebelum bertemu kamu, aku tertarik pada beberapa pria, tetapi sulit mengatakan bahwa aku mencintai mereka seperti perasaan yang aku miliki terhadapmu. Cintaku  tumbuh diawali oleh adanya rasa aman waktu berjalan bersamamu. Aku suka humormu, sikap melindungi dan perasaan istimewa yang kau hadirkan. Denganmu, aku menjadi wanita."  Perkawinan itu membangun rasa percaya dan menerima orang lain apa adanya.

"Perubahan berikutnya yang terjadi dalam diriku adalah aku belajar mempercayakan diri dan masa depanku pada seorang pria yang sebenarnya aku tidak terlalu kenal," kata wanita itu setelah membiarkan angan-angannya sejenak berkelana.

"Aku rasa itu sebabnya banyak kerikil tajam dan batu besar yang kita hadapi pada awal mulanya. Kalau aku ingat sekarang, aku heran juga bagaimana kau mau hidup dengan seorang wanita yang bossy, hampir tidak betah di rumah, dan hanya sedikit punya keinginan mengurus rumah. Lagipula, belum tentu aku bisa memberimu anak, berhubung adanya pendapat dokter tentang kandunganku. Tetapi kamu tidak meninggalkan aku dan sedia menghadapi risiko itu. Denganmu, aku diterima apa adanya."

Salah satu hal penting yang kita pelajari dari pernikahan adalah mendorong orang yang kita cintai ke sebuah perubahan yang lebih baik.

Si wanita itu bersaksi lagi:

"Suamiku  memang luar biasa. Dia tahu, istrinya  suka membaca dan menulis. Lama-lama suamiku menyadari bahwa hobi ini sekedar untuk menutupi rasa aman palsu, karena dengan demikian aku  tidak perlu menjalin hubungan dengan orang lain. Dia menerima aku apa adanya"

Dia melanjutkan: "

"Suamiku melihat bahwa istrinya  memiliki beberapa keistimewaan yang masih bisa berkembang. Suamiku memberi arti yang berbeda tentang hobiku. Dia menolong aku untuk menuliskan masalah yang kami  hadapi sehingga menjadi bahan pembelajaran bagi orang lain. Ini hal baru buatku karena untuk melakukannya aku harus berhubungan dengan manusia. Ternyata, rasa aman di zona nyamanku ini perlu kubagi dengan orang lain."

HARMONIS

Apakah artinya saling menghargai? Bagi beberapa orang istilah ini diartikan sebagai tidak melakukan kekerasan terhadap anak dan pasangan, saling menolong, tidak melecehkan.

Tetapi pernikahan memberi arti baru pada kata saling menghargai dan hidup harmoni, yaitu siap menanggung kesalahan pasangan dan tidak membiarkan pasangannya merasa malu di depan orang lain. Ortu menjadi pembela anak. Tidak hanya peduli pada anak yang aik-penurut, tetapi juga pada "anak yang hilang", anak yang menjengkelkan.

Keluarga menjadi Harmonis dengan cara menjalankan fungsi sebagai Ayah, Ibu, Anak, Suami dan istri dengan sebaik-baiknya. Seimbang antara menjalani kehidupan karir dan keluarga.

KATARSIS

Keluarga juga tempat paling asyik kita bisa ngobrol apa saja, curhat pada orangtua saat ada masalah dari sekolah. Idealnya suami menjadi tempat curhat istri, saat ada sakit di hati. Istri tempat suami bercerita seelah seharian berjuang di kantor.

Dalam istilah Freud, keluarga menjadi tempat kita katarsis. Boleh ngomong atau curhat apa saja yang mengganggu emosi kita. Karena itu anggota keluarga yang baik, perlu belajar menjadi pendengar yang baik, bersedia menjadi "keranjang sampah" bagi yang lain. Jika tidak, jangan heran anak atau pasangan kita mencarinya di tempat lain.

SUMBER RASA SYUKUR

Mengapa pernikahan itu anugerah istimewa yang selalu patut kita syukuri?

Pertama, pernikahan adalah inisiatif Tuhan sendiri. Dia membentuk manusia pertama, Adam dan memberikan Hawa menjadi istrinya. Allah memberi mereka mandat budaya untuk mengelola bumi ini. (Kej.1:26)

Kedua,  keluarga adalah tempat lahir dan dibesarkannya orang-orang besar dan berguna. Para tokoh, pejuang, pahlawan, pemimpin dan pelayan masyarakat juga lahir dari sebuah keluarga. Dalam anugerah-Nya Tuhan memilih. Kita boleh jadi orang biasa saja saat ini. Tapi  Kita belum tahu bagaimana kelak keadaan anak-cucu kita. Seratus, empat ratus tahun mendatang, bisa saja lahir orang yang Dia pakai memberkati bangsa ini dari keturunan kita.

Ketiga,  perkawinan Itu   bersifat "trialog". Tuhan hadir di dalam relasi suami-istri, Orangtua dan anak. Semua  melibatkan Tuhan dalam komunikasi mereka. Firman-Nya menjadi tolok ukur, standar nilai-nilai keluarga di tengah tantangan limpahnya media, internet dan sebagainya.

Keempat,  pasangan suami dan istri akan menjadi ayah dan ibu. Ini merupakan jabatan istimewa, posisi yang tak tergantikan.  Banyak orang dapat menggantikan tugas kita sebagai guru, pembicara, atau direktur perusahaan. Tetapi tidak seorang pun yang dapat menjadi ayah dan ibu bagi anak-anak kita, menggantikan posisi suami bagi istri kita atau menjadi istri bagi suami kita.

Kelima,  beberapa penelitian membuktikan, bahwa perkawinan yang sehat dapat menjadi pemulihan hidup dari trauma masa lalu. Keluarga yang intim menjadi benteng stres kehidupan, menjadikan hidup orang yang menikmatinya, sehat serta produktif.

Keenam,   fungsi-fungsi dalam keluarga berdampak kekal. Kelak, di hari penghakiman-Nya kita semua berdiri dihadapan Tuhan Hakim yang Adil. termasuk anak dan pasangan kita. KIta perlu menyiapkan keluarga kita untuk menghadapi kekekalan. Semoga  kita tidak disibukkan hanya untuk kekinian, sampai lupa keluarga.

PENUTUP

Boleh dikatakan, keluarga adalah pemberian terindah dari semua yang kita miliki. Orangtua pemberi hidup, anak milik pusaka dan istri adalah kasih karunia.  Di dalamnya kita dilahirkan, dibesarkan dan mengenal kasih dan menikmati Anugerah-Nya. Soli Deo Gloria

"Julianto Simanjuntak"
Powered by Telkomsel BlackBerry®

TUJUH KUNCI UNTUK MENDORONG PERTUMBUHAN

TUJUH KUNCI UNTUK MENDORONG PERTUMBUHAN


1. Mengembangkan Lingkungan yang Mendukung.

Hal terbaik yang perlu dikembangkan dalam mendisiplin anak ialah menjaga agar anak-anak kita tetap berkembang secara sehat. Selain itu, kita mesti memanfaatkan setiap kesempatan untuk bisa mendorong mereka. Yang dimaksud lingkungan yang mendukung ialah lingkungan di mana anak-anak kita tahu mereka berharga di hadapan Allah dan di hadapan kita sebagai orang tua; lingkungan di mana kita dapat memberi lebih banyak waktu untuk membangun dan mendorong mereka, bukannya memarahi dan menyalahkan mereka; lingkungan di mana kita menghargai mereka melalui cara kita berbicara; lingkungan di mana kita mendorong mereka untuk melakukan hal yang baik, dan bukannya membiarkan mereka tetap berperilaku buruk. Kita harus lebih banyak memuji mereka atas tanggung jawab yang dilakukan, daripada mengkritik dan mencela mereka karena gagal memenuhi harapan kita; lingkungan di mana kita menanggapi kegembiraan sekaligus kesedihan anak-anak kita.

2. Bersikaplah Terbuka Mengenai Kesalahan dan Kelemahan Anda.

Lingkungan yang mendukung ialah lingkungan di mana ada pengertian saat kita melakukan kesalahan. Sebenarnya, dalam lingkungan seperti itu anak bukan hanya mengerti, tetapi mereka juga dapat belajar bahwa Allah dapat memakai kegagalan mereka untuk menolong mereka bertumbuh. Mereka belajar bahwa yang tertulis dalam Roma 8:28 memang benar. Mereka belajar bahwa pertanyaan terbaik yang patut diucapkan setelah melakukan kesalahan ialah, "Hikmah apa yang dapat saya petik dari hal ini?" Salah satu cara terbaik untuk melakukan hal ini ialah dengan memperagakannya.

3. Siap Sedia.

Kunci ini merupakan kunci paling sederhana di antara ketujuh kunci lainnya, tetapi sekaligus yang tersulit. Kunci ini yang terpenting karena enam langkah lainnya tergantung pada kunci ini. Lalu mengapa kunci ini sederhana? Karena kunci ini tidak memerlukan bacaan atau pelatihan tertentu. Yang perlu dilakukan hanyalah selalu siap sedia bagi anak-anak. Siapa saja dapat melakukan.

Apa yang membuat hal ini begitu sulit? Karena kita semua sibuk. Kita banyak membebani diri dengan tuntutan dan tekanan dari diri sendiri maupun orang lain. Kita selalu merasa bahwa masih ada yang harus dan ingin kita lakukan. Hanya sedikit dari kita yang duduk tenang di penghujung hari dan berkata kita telah menyelesaikan semua yang kita inginkan.

Di tengah berbagai kesibukan, anak-anak dengan mudah dapat menjadi gangguan. Tentunya tidak realistis bagi kita untuk selalu membatalkan semua kegiatan dan memenuhi tuntutan anak-anak kita saja. Pada saat yang sama, kita perlu memahami bahwa mereka tidak memiliki persepsi tentang waktu seperti kita. Anak-anak hanya memiliki keterampilan abstraksi yang rendah dan bagi sebagian besar mereka, masa sekarang ialah segalanya.

Kita dapat selalu siap sedia bagi anak-anak melalui dua cara. Pertama, kita dapat meluangkan waktu khusus bagi mereka, contohnya menyapa pada waktu bangun pagi atau di kesempatan lain dan ada waktu untuk mengobrol. Mungkin Anda juga dapat menemukan waktu-waktu tertentu di sepanjang hari, di mana mereka bersikap lebih terbuka untuk mengobrol. Pada saat-saat seperti ini, akan sangat bijaksana jika Anda "mengesampingkan" jadwal Anda dan "secara kebetulan" siap untuk berbicara dan mendengarkan pengalaman mereka di hari itu, membaca, bermain bersama-sama mereka, atau berbagi pengalaman dengan mereka.

Kedua, kita dapat mempelajari kiat-kiat "menciptakan" waktu pada saat diperlukan. Kita dapat mengembangkan kemampuan untuk mencari "waktu untuk dapat mengajar". Dalam Lukas 5:17-20, Kristus mengajar kelompok orang Farisi dan ahli Taurat yang terkenal. Mereka datang dari jauh untuk mendengar ajaran-Nya. Ketika Yesus sedang mengajar, ada orang-orang yang membongkar atap rumah di atas kepala-Nya. Mereka tidak hanya membongkar atap, tetapi juga menurunkan seorang lumpuh dalam usungan dan meletakkannya di hadapan Yesus.

Meski kebanyakan di antara kita melihatnya sebagai gangguan, tetapi Kristus melihatnya sebagai kesempatan yang unik. Dia melihat adanya suatu kebutuhan. Dia melihat iman mereka dan sudah pasti Dia menganggap hal itu lebih penting daripada pembicaraan-Nya. Dengan segera Dia melihat peristiwa ini sebagai momen yang dapat dipakai-Nya untuk mengajar. Dia betul-betul memanfaatkannya.

Kita dapat meluangkan waktu untuk menolong anak-anak menangani masalah. Kadang-kadang mereka ingin segera mengatasinya. Kadang-kadang mereka perlu memikirkan dan membicarakannya sebelum tidur. Anak-anak tidak selalu dapat melupakan pengalaman emosional yang menyakitkan. Mereka perlu menyelesaikannya. Meskipun demikian, mereka juga perlu belajar menyelesaikannya bersama seseorang yang dapat menolong mereka "keluar dari permasalahan", sekalipun tidak "menyelesaikan" masalah itu bagi mereka. Meskipun mencoba-coba, kita sebagai orangtua dapat meluangkan waktu dan menyediakan tempat yang aman bagi mereka untuk menyelesaikan masalah. Hanya dengan meluangkan waktu bersama, kita akan dapat berkomunikasi, menyelesaikan konflik, membangun, merawat, menyayangi, mengasihi, dan saling menguatkan.

4. Lihat, Dengar, Baru Berbicara.

Ketika berbicara tentang komunikasi yang baik, kebanyakan dari kita telah mengalami kemunduran. Kita cenderung terus berbicara, baru kemudian melihat dan mendengar. Ketika kebanyakan orang berpikir mengenai komunikasi, mereka cenderung menekankan aspek verbal. Bagi mereka, komunikasi ialah kata-kata yang disampaikan seseorang kepada orang lain. Banyak orang terkejut saat mempelajari bahwa untuk menyampaikan pesan sebenarnya hanya diperlukan 7 persen kata-kata. Nada suara menyumbangkan 38 persen, dan faktor-faktor nonverbal lainnya 55 persen.

Saat anak Anda berbicara, kita perlu mengembangkan kebiasaan mendengarkan dengan penuh perhatian. Menjadi pendengar yang baik tidaklah mudah dan tidak terbentuk dengan sendirinya. Alkitab berbicara banyak tentang pentingnya mendengar. Amsal 18:13 mengatakan, "Jikalau seseorang memberi jawab sebelum mendengar, itulah kebodohan dan kecelaannya." Kemudian Yakobus 1:19, "Setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah."

Salah satu keunikan Tuhan Yesus ialah bahwa Ia sungguh-sungguh memerhatikan setiap pribadi. Bagi-Nya tidak ada orang yang dianggap terlalu rendah, terlalu tua, terlalu muda, terlalu lambat, atau apa pun. Dia selalu meluangkan waktu bersama mereka semua. Orang-orang biasa sudah cukup menjadi alasan bagi-Nya untuk datang, mati, dan bangkit kembali. Jika orang biasa saja penting bagi Yesus, tidakkah anak-anak kita semestinya lebih penting bagi kita?

Anda dapat membuat anak-anak Anda tahu bahwa Anda mengasihi mereka melalui sesuatu yang sederhana. Misalnya lewat kontak mata, senyuman, anggukan kepala, atau kesediaan untuk membiarkan mereka bebas berbicara. Kadang-kadang saat anak Anda ingin mengungkapkan sesuatu, Anda sedang tidak punya waktu untuk mendengarkan. Dengan jujur, katakan bahwa Anda bersedia mendengarkan, tetapi tidak saat itu. Lalu berjanjilah untuk mendengarkannya lain waktu. Yang penting, pastikan untuk memenuhi janji Anda.

Saat mendengarkan anak Anda, jangan hanya mendengar kata-katanya. Belajarlah untuk membaca bahasa nonverbal mereka. Perhatikan ekspresi wajah, postur, dan gerak-gerik tubuh mereka. Selain itu, belajarlah menangkap makna di balik nada suara anak. Adakah perubahan nada, kecepatan, susunan kata-kata, dan volume suara? Ungkapkan interpretasi Anda kepadanya. Hal ini akan membuatnya merasa dipahami dan menolong Anda menguji ketepatan interpretasi Anda.

Jika Anda sudah terampil dalam melihat perubahan raut wajah anak Anda dan mendengarkannya, Anda akan memahaminya dengan lebih baik. Anda akan lebih dapat menyadari adanya sesuatu yang tidak beres. Jika kita bersedia mendengarkan anak-anak dan membiarkan mereka menumpahkan emosi-emosi yang negatif, menyakitkan, dan membingungkan, mereka akan lebih mudah menemukan perasaan-perasaan positif dan menjadi lebih terbuka untuk mendengar beberapa alternatif pemecahan masalahnya.

5. Saat Anda Berbicara, Ajukan Pertanyaan.

Kunci kelima untuk mengusahakan lingkungan yang sehat ialah mempelajari seni mengajukan pertanyaan yang baik. "Ada dua macam pertanyaan: pertanyaan tertutup dan pertanyaan terbuka. Pertanyaan tertutup ialah pertanyaan yang dapat dijawab dengan satu kata seperti, "Apakah semuanya berjalan baik hari ini?" Pertanyaan terbuka ialah pertanyaan yang membutuhkan jawaban lebih dari satu kata, misalnya, "Apa yang paling membuatmu senang hari ini?" Akan lebih baik bila kita mengajukan beberapa pertanyaan terbuka daripada pertanyaan tertutup.

Selain itu, penggunaan waktu yang tepat juga penting. Jika memungkinkan, pilihlah waktu ketika Anda dan anak-anak tidak dalam kondisi tergesa-gesa. Jika Anda selalu menyelesaikan ucapan-ucapan anak Anda, atau hanya menjawab, "ya, aku mengerti" atau "cukup", tampaknya Anda telah salah memilih waktu.

Saat mengajukan pertanyaan, pastikan untuk memberi cukup waktu kepada anak Anda untuk menjawabnya. Jika Anda mengajukan pertanyaan dan menuntut jawaban secepatnya, hal itu dapat menekan anak Anda dan memberi kesan keliru. Meskipun Anda bermaksud mengatakan, "Engkau penting bagiku," kesan yang mereka terima dapat menjadi, "Apa yang kau katakan penting jika kau katakan dengan cepat. Ada hal-hal penting lain yang harus saya lakukan."

Ketika anak Anda menjawab pertanyaan, dengarkan apa yang dikatakannya dan bagaimana ia mengatakannya dengan penuh perhatian, karena isi maupun nada suara dalam jawabannya sama pentingnya. Jika ia menjawab dengan bersemangat atau jika ia menambahkan keterangan-keterangan lain, berarti Anda sudah menemukan kuncinya. Daripada mengajukan pertanyaan yang hebat, ajukan pertanyaan seputar topik yang penting baginya, atau temukan waktu saat ia bersedia mengobrol.

6. Izinkan Anak Anda Mengekspresikan Emosinya.

Tedd Tripp menulis bahwa komunikasi bukan sekadar mendisiplin, tetapi juga memuridkan. Komunikasi yang baik dapat menggembalakan anak-anak dalam jalan Allah. Acap kali orang tua terlalu sibuk, sehingga tidak ada waktu untuk berbicara, kecuali jika ada masalah. Kebiasaan berdiskusi bersama akan membantu kita saat perlu berbicara dalam situasi tegang. Anda tidak akan dapat meraih hati anak-anak Anda, jika Anda hanya berbicara dengan mereka ketika ada masalah.

Karena kurangnya pendidikan atau masuknya informasi yang keliru, kebanyakan di antara kita, khususnya pria, diajar untuk tidak mengacuhkan saat merasakan sesuatu. Ketika mengalami depresi, kita diajar bahwa itu hanyalah keputusan biasa. Ketika merasa sedih, kita diajar untuk bergembira. Ketika marah, kita diajar untuk bersikap tenang. Ketika merasa sakit hati, kita diajari untuk menghadapinya dengan berani dan tersenyum.

Dr. Haim G. Ginot mengatakan, "emosi adalah bagian dari sifat genetis yang menurun". Pengajaran tentang emosi dapat menolong anak-anak untuk menyadari apa yang mereka rasakan dan kapan mereka merasakannya. Menurut Dr.Ginot, "Lebih penting bagi seorang anak untuk mengenal apa yang dirasakannya daripada menyadari alasan ia merasakannya. Ketika ia mengenal apa yang dirasakan dengan jelas, besar kemungkinan ia tidak akan merasakan 'kekacauan' dalam batinnya". Agar anak dapat memiliki dasar yang kuat bagi kehidupan emosi mereka di kemudian hari, mereka perlu dikuatkan untuk mengalami dan mengekspresikan berbagai emosi. Pengalaman emosi mereka seharusnya tidak dibatasi pada emosi yang menyenangkan saja. Jika mereka hanya diizinkan untuk mengalami satu sisi emosinya, mereka akan memiliki kesadaran yang terbatas tentang Allah yang menciptakan mereka dan perspektif yang keliru tentang orang lain. Kemampuan mereka untuk menarik hikmah dari emosi sangat terbatas, dan mereka akan lebih menjadi lebih mudah dikuasai oleh emosi mereka sendiri.

Anak-anak juga perlu didorong untuk mengalami kegembiraan dan kesedihan, harapan dan ketakutan, sukacita dan depresi, kecemburuan dan belas kasihan. Proses belajar yang sejati tidak terjadi dalam lingkup emosi yang terbatas, tetapi dalam emosi yang menyenangkan dan juga menyakitkan. Pernyataan yang menyebutkan bahwa kita diciptakan segambar dengan Allah juga mengandung arti bahwa kita memiliki emosi. Orang tua yang baik akan mengizinkan anak-anaknya mengekspresikan berbagai emosi dengan cara yang tepat. Hal yang perlu diperhatikan orang tua dalam hal emosi adalah gambaran wajahnya. Perhatikanlah stres emosional yang memengaruhi mereka. Jika memungkinkan doronglah anak Anda untuk menceritakan semua kekhawatiran dan perasaan mereka. Doronglah mereka untuk menceritakan apa pun yang mereka rasakan -- positif atau negatif, menyenangkan atau menyakitkan. Jika mereka sulit untuk terbuka, Anda dapat memulainya dengan menceritakan perasaan Anda sendiri.

7. Memahami Bahwa Hal-hal yang Diperlukan untuk Sukses Dalam Berbisnis dan Mengasuh Anak Tidaklah Sama.

Kunci keberhasilan di kantor mestinya juga dapat dipakai di rumah. Bagaimanapun juga, sudah semestinya orang tua mempersiapkan anak untuk menghadapi dunia "nyata".

Diringkas dari:
Judul asli buku: Raising Kids to Love Jesus 1
Judul buku terjemahan: Memahami Anak Sesuai dengan Kecenderungan Kepribadiannya
Judul artikel: Tujuh Kunci untuk Mendorong Pertumbuhan Anak-anak
Penulis: H. Norman Wright dan Gary J. Oliver
Penerjemah: Otniel Sintoro dan Mariani Sutanto
Penerbit: Gloria Graffa, Yogyakarta 2003
Halaman: 70 -- 90


Powered by Telkomsel BlackBerry®