Jumat, 24 September 2010

"Perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?"


(Yeh 24:15-24; Mat 19:16-22)

"Ada seorang datang kepada Yesus, dan berkata: "Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?" Jawab Yesus: "Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Hanya Satu yang baik. Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah." Kata orang itu kepada-Nya: "Perintah yang mana?" Kata Yesus: "Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, hormatilah ayahmu dan ibumu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." Kata orang muda itu kepada-Nya: "Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?" Kata Yesus kepadanya: "Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku." Ketika orang muda itu mendengar perkataan itu, pergilah ia dengan sedih, sebab banyak hartanya" (Mat 19:16-22), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
• Kita semua mendambakan `untuk memperoleh hidup yang kekal' setelah dipanggil Tuhan atau meninggal dunia nanti. Syarat untuk itu memang sungguh berat, yaitu "Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutilah Aku". Rasanya tak akan mungkin bagi kita semua untuk menjual segala milik kita dan kemudian memberikan uang penjualan tersebut kepada orang miskin. Maka baiklah sabda Yesus tersebut kita hayati tidak secara harafiah, tetapi inti maksudnya, yaitu hendaknya kita memfungsikan segala milik kita sebagai sarana sosial, karena semua harta benda atau milik hemat saya pada dirinya bersifat sosial. Semakin kaya akan harta benda atau uang hendaknya semakin sosial, maka kepada mereka yang kaya akan harta benda atau uang hendaknya harta benda atau uang tersebut `dijalankan' demi orang-orang miskin dan berkekurangan. Harta benda atau uang diam saja tidak ada artinya dan akan berarti jika `berjalan-jalan', maka jangan menyimpan harta benda atau uang dalam almari besi saja. Mengingat dan memperhatikan masih begitu banyak tenaga kerja yang menganggur, maka dengan ini kami berharap kepada para pengusaha untuk membuka dan menyelenggarakan usaha yang menyerap lebih banyak tenaga kerja. Memang usaha seperti pertambangan dan perkebunan nampak lebih menguntungkan secara financial, akan memperoleh keuntungan besar, tetapi usaha tersebut hemat saya kurang sosial, bahkan merusak lingkungan hidup, yang pada gilirannya memiskinkan rakyat. Usahakan lebih `padat karya' daripada `padat modal' mengingat dan memperhatikan begitu banyak tenaga kerja yang menganggur.
• "Hai anak manusia, lihat, Aku hendak mengambil dari padamu dia yang sangat kaucintai seperti yang kena tulah, tetapi janganlah meratap ataupun menangis dan janganlah mengeluarkan air mata" (Yeh 24:16), demikian firman Tuhan kepada kita semua melalui nabi Yeheskiel. Apa atau siapa yang sangat saya cintai? Relakah saya bahwa yang sangat saya cintai tersebut diambil oleh Tuhan. Mungkin yang dimaksud diambil oleh Tuhan tidak hanya berarti meninggal dunia saja, tetapi dipersembahkan seutuhnya kepada Tuhan. Jika kita yang terkasih diminta untuk mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan kiranya ada kemungkinan, maka marilah kita mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan di dalam hidup sehari-hari. Dengan kata lain hendaknya tidak hidup demi dirinya sendiri saja. "Sebab tidak ada seorang pun di antara kita yang hidup untuk dirinya sendiri, dan tidak ada seorang pun yang mati untuk dirinya sendiri. Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan." (Rm 14:7-8), demikian kesaksian atau nasihat Paulus kepada umat di Roma, kepada kita semua umat beriman. Hendaknya kita hidup dan bertindak demi semakin banyak orang, melakukan aneka perkerjaan yang berdampak pada keselamatan lebih banyak orang. Secara khusus kami berharap kepada anak-anak dan generasi muda untuk berani membuka diri terhadap kemungkinan dipanggil untuk menjadi imam, bruder atau suster, sedangkan kepada para orangtua hendaknya dengan rela hati dan gembira ketika salah seorang anaknya minta izin untuk menjadi imam, bruder atau suster. Kepada semuanya kami berharap untuk mengusahakan, meningkatkan dan memperdalam kepedulian kepada sesama, lebih-lebih atau terutama kepada mereka yang miskin dan berkekurangan.

"Gunung batu yang memperanakkan engkau, telah kaulalaikan, dan telah kaulupakan Allah yang melahirkan engkau. Ketika TUHAN melihat hal itu, maka Ia menolak mereka, karena Ia sakit hati oleh anak-anaknya lelaki dan perempuan. Ia berfirman: Aku hendak menyembunyikan wajah-Ku terhadap mereka, dan melihat bagaimana kesudahan mereka, sebab mereka itu suatu angkatan yang bengkok, anak-anak yang tidak mempunyai kesetiaan" (Ul 32:18-20).

Doa mohon keadilan Tuhan

Doa mohon keadilan Tuhan

Mazmur 129

Bagi orang Israel, menyanyikan mazmur ziarah berarti mengarahkan hati dan
pikiran kepada Bait Allah di Yerusalem, kiblat mereka. Seperti Daniel yang
berdoa tiga kali sehari menghadap Yerusalem (Dan. 6:11), demikianlah Israel
terus diingatkan untuk memfokuskan bukan saja diri mereka, tetapi juga
perhatian dan hati mereka kepada hadirat Allah yang dilambangkan Bait Allah di
Yerusalem. Ketika mata hati kita tertuju dan terfokus kepada Allah, maka segala
pikiran dan perasaan kita perlahan-lahan akan tertata dengan baik menurut
prioritasnya. Semakin dalam kita mengenal Allah, semakin baik prioritas itu
akan tertata rapi. Mazmur 129 mendoakan bukan saja kebaikan Israel, juga
hukuman bagi mereka yang berlaku jahat terhadap umat Tuhan.

Penyertaan Tuhan adalah sesuatu yang nyata melalui kehidupan umat-Nya.
Walaupun umat Israel pernah melalui masa-masa yang berat dalam sejarah mereka,
tetapi pada akhirnya Tuhan menyatakan juga kebaikan-Nya. Orang-orang jahat bisa
saja mendatangkan kesesakan, tetapi kata akhirnya akan selalu ada di tangan
Tuhan dan Dia akan memberikan kelepasan pada waktunya.

Sebagai umat Tuhan, kehidupan kita di dunia ini bukan saja membawa citra
dan nama baik kita, tetapi juga citra dan nama baik Tuhan. Karena itu ketika
ada orang yang berlaku jahat terhadap kita, kita bisa naik banding kepada Tuhan
dan minta kepada-Nya untuk bertindak bagi kepentingan kita sebab kepentingan
kita adalah kepentingan-Nya juga. Doa agar mereka yang jahat menerima keadilan
Tuhan dan tidak menerima berkat-Nya lahir bukan dari perasaan egois karena
ingin diberkati Tuhan dan tidak peduli orang lain. Justru doa ini adalah agar
nama baik Tuhan dinyatakan.

Mari kita belajar berdoa dengan tepat. Kita belajar melihat berbagai isu
dan kesulitan di dunia ini melalui kacamata dan kepentingan Allah. Kita meminta
berkat untuk anak-anak Tuhan dan keadilan untuk mereka yang melawan Tuhan agar
dunia melihat keadilan dan kekudusan-Nya!

|||||| sumber: http://www.sabda.org/publikasi/e-sh/ ||||||

Cinta Kepada Bangsa

Matius 27:3-5
Mazmur 93-95;
Roma 16

Benar atau salah, ini negaraku",
adalah sepenggal ungkapan patriotik yang dikutip dari kalimat Stephen Decatur
(1779-1820). Secara lengkap sebenarnya ia ber­ujar demikian, "Oh, negaraku!
Dalam hu­bungannya dengan negara-negara lain, se­­­moga ia selalu dalam posisi
benar; na­mun benar atau salah, ini negaraku!" Lalu bertahun-tahun setelahnya,
Carl Schurz (1829-1906) memperjelas lagi ungkap­­an ini dengan berkata, "Benar
atau sa­lah, ini ne­garaku; jika ia benar maka ia ha­rus di­jaga tetap benar,
jika salah, maka ia ha­­rus dibantu untuk menjadi benar." Maka, ka­limat
patriotik ini sesungguhnya tak bo­leh diambil sepenggal, agar orang tak ke­mu­dian
mencintai negaranya secara buta dan bisa bertindak tanpa pertimbangan ma­tang.

Hal yang hampir sama terjadi
pada Yudas. Kenapa Yudas meng­­­khianati Tuhan Yesus? Pasti bukan karena uang. Sebab,
kalau karena uang, kenapa hanya tiga puluh keping perak? Dan, kenapa pula ia
kemudian mengembalikan uang itu? Salah satu tafsiran, ka­rena Yudas ingin
"memaksa" Gurunya bertindak menurut keingin­annya, yakni mengobarkan gerakan
revolusi membebaskan bangsa­nya dari penjajah Romawi. Jadi, kesalahan Yudas
yang ter­besar adalah, demi mewujudkan cintanya terhadap bangsa dan negara­nya,
ia mengabaikan kebenaran dan menghalalkan se­gala cara.

Cinta kepada bangsa dan negara
tentu saja baik—dan perlu. Na­­mun, rasa cinta itu tetap harus diletakkan dalam
koridor kebe­nar­an. Jangan karena rasa cinta, lalu yang hitam menjadi putih
dan yang putih menjadi hitam. Sejarah sudah membuktikan, rasa cinta ter­hadap
bangsa yang diwujudkan dengan cara yang salah, pada akhir­nya akan berujung
tragedi.

KEBENARAN TAK
MENGENAL "WARNA"

ATAU PUN
KEBANGSAAN


|||||| sumber: http://www.renunganharian.net/ ||||||