Minggu, 23 Oktober 2011

Biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi

 "Biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi"

(Rm 8:1-11; Luk 13:1-9)

"Pada waktu itu datanglah kepada Yesus beberapa orang membawa kabar tentang orang-orang Galilea, yang darahnya dicampurkan Pilatus dengan darah korban yang mereka persembahkan.  Yesus menjawab mereka: "Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya dari pada dosa semua orang Galilea yang lain, karena mereka mengalami nasib itu?  Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian.  Atau sangkamu kedelapan belas orang, yang mati ditimpa menara dekat Siloam, lebih besar kesalahannya dari pada kesalahan semua orang lain yang diam di Yerusalem?  Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian."  Lalu Yesus mengatakan perumpamaan ini: "Seorang mempunyai pohon ara yang tumbuh di kebun anggurnya, dan ia datang untuk mencari buah pada pohon itu, tetapi ia tidak menemukannya.  Lalu ia berkata kepada pengurus kebun anggur itu: Sudah tiga tahun

aku datang mencari buah pada pohon ara ini dan aku tidak menemukannya. Tebanglah pohon ini! Untuk apa ia hidup di tanah ini dengan percuma!  Jawab orang itu: Tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya,  mungkin tahun depan ia berbuah; jika tidak, tebanglahdia!"(Luk 13:1-9),
·   Allah adalah maha sabar dan maha belas kasih; kepada siapapun yang sungguh beriman kepadaNya ketika berdosa atau bersalah pasti akan diampuni melalui orang-orang yang baik hati di sekitar lingkungan hidup dan kerja kita. Marilah kita sadari dan hayati bahwa bertambah  usia pada umumnya kita juga bertambah dosanya, dan dengan demikian kesabaran dan belas kasih Allah sungguh nyata, karena kita dibiarkan saja. Dengan kata lain marilah kita hayati kesabaran dan belas kasih Allah dan kemudian kita teruskan atau salurkan kepada saudara-saudari kita dimanapun dan kapanpun. Kita semua umat beriman dipanggil untuk menjadi pembantu Allah dalam menyalurkan kesabaran dan belas kasih, dan hal itu kiranya secara konkret menjadi nyata dalam fungsi kita sebagai 'penyiram' (perawat atau pengelola). Sebagai 'penyiram' memang harus hidup dijiwai oleh kesabaran dan belas kasih, sebagaimana dihayati oleh para petani, yang merawat tanamannya. Ingatlah dan

sadari bahwa kesabaran dan belas kasih sungguh dibutuhkan oleh semua ciptaan Allah di bumi ini: manusia, binatang maupun tanaman, maka marilah kita sikapi, entah itu manusia, binatang maupun tanaman dengan dan dalam kesabaran dan belas kasih. Para ibu yang pernah mengandung dan melahirkan anak kiranya memiliki pengalaman kesabaran dan belas kasih, maka kemi harapkan dapat menjadi teladan dalam penghayatan maupun penyebaran kesabaran dan belas kasih. Kami berharap kepada para guru, orangtua, pamong atau pendamping dst.. menghayati fungsinya dalam dan dengan kesabaran dan belas kasih.

·   "Keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera. Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya. Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah. Tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah diam di dalam kamu" (Rm 8:6-9), demikian kesaksian iman dan peringatan Paulus kepada umat di Roma, kepada kita semua segenap umat beriman. Sebagai umat beriman kita semua dipanggil untuk hidup dalam dan oleh Roh, sehingga cara hidup dan cara bertindak kita menghasilkan buah-buah Roh seperti "kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri" (Gal 5:22-23). Maka perkenankan dengan ini secara khusus saya mengingatkan dan mengajak segenap rohaniwan dan rohaniwati untuk dapat menjadi teladan dalam hidup oleh Roh

alias penghayatan keutamaan-keutamaan sebagai buah Roh di atas. Marilah kita sadari dan hayati bahwa sebagai rohaniwan dan rohaniwati kita memiliki tugas pengutusan untuk menyirami umat Allah dengan keutamaan-keutamaan tersebut, agar segenap umat Allah akhirnya juga menghayati atau menghasilkan keutamaan-keutamaan sebagai buah Roh tersebut di atas. Maka perkenankan saya mengangkat keutamaan 'sabar' yang menurut hemat saya pada masa kini sungguh mendesak untuk kita hayati dan sebarluaskan. "Sabar adalah sikap dan perilaku yang menunjukkan kemampuan dalam mengendalikan gejolak diri dan tetap bertahan seperti keadaan semula dalam menghadapi berbagai rangsangan atau masalah" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka-Jakarta 1997, hal 24)

"TUHANlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya. Sebab Dialah yang mendasarkannya di atas lautan dan menegakkannya di atas sungai-sungai. "Siapakah yang boleh naik ke atas gunung TUHAN? Siapakah yang boleh berdiri di tempat-Nya yang kudus?""Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, dan yang tidak bersumpah palsu" (Mzm 24:1-4).


Powered by Telkomsel BlackBerry®

SEPADAN DENGAN PERTOBATAN

SEPADAN DENGAN PERTOBATAN

Komunisme tidak memercayai eksistensi surga dan kekekalan. Walau
demikian, pemerintahan komunis di Rusia menjanjikan kemunculan
generasi baru manusia yang berwatak luhur. Dengan mengabaikan
kekekalan sebagai daya dorong, mungkinkah mereka mencapainya?
Keruntuhan komunisme sekian dekade kemudian menyingkapkan
borok-boroknya. Alih-alih bangkitnya "Manusia Sosialis Baru",
rata-rata warga Soviet lebih suka menghabiskan uang untuk
mabuk-mabukan daripada membantu anak-anak yang membutuhkan.

Josef Tson, pendeta Rumania, menggarisbawahi hal ini: "Mereka tidak
punya motivasi untuk berbuat baik. Mereka melihat bahwa dalam dunia
yang sepenuhnya material, hanya ia yang bergegas-gegas dan menyambar
bagi dirinya sendiri, yang bisa memiliki sesuatu. Buat apa mereka
menyangkal diri dan jujur? Apa motivasi yang bisa ditawarkan pada
mereka untuk menjalani hidup yang berguna bagi orang lain?"

Kegawalan komunisme menyodorkan pelajaran tentang pentingnya
perspektif kekekalan dalam menjalani pertobatan. Metanoia, bahasa
Yunani untuk pertobatan, mengacu pada pembaruan pikiran yang
berujung pada perubahan tindakan menuju kebajikan. Tanpa kesadaran
akan kekekalan, pertobatan menjadi seperti perjalanan tanpa motivasi
dan tanpa tujuan. Orang bisa gampang patah arang di tengah jalan.
Sudut pandang mengenai kekekalan menggugah pertobatan kita. Kalau
kita memercayai kekekalan, apakah hidup kita menunjukkan pertobatan
dan perubahan yang sepadan? Sebab benih ilahi tetap ada di dalam dia
dan ia tidak dapat terus-menerus berbuat dosa (ayat 9)

APA YANG KITA LAKUKAN DI DUNIA INI BERGEMA DI KEKEKALAN

Ayat Alkitab: 1 Yohanes 3:1-10

1 Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada
kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita
adalah anak-anak Allah. Karena itu dunia tidak mengenal kita,
sebab dunia tidak mengenal Dia.
2 Saudara-saudaraku yang kekasih, sekarang kita adalah anak-anak
Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi
kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan
menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam
keadaan-Nya yang sebenarnya.
3 Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya, menyucikan
diri sama seperti Dia yang adalah suci.
4 Setiap orang yang berbuat dosa, melanggar juga hukum Allah,
sebab dosa ialah pelanggaran hukum Allah.
5 Dan kamu tahu, bahwa Ia telah menyatakan diri-Nya, supaya Ia
menghapus segala dosa, dan di dalam Dia tidak ada dosa.
6 Karena itu setiap orang yang tetap berada di dalam Dia, tidak
berbuat dosa lagi; setiap orang yang tetap berbuat dosa, tidak
melihat dan tidak mengenal Dia.
7 Anak-anakku, janganlah membiarkan seorangpun menyesatkan kamu.
Barangsiapa yang berbuat kebenaran adalah benar, sama seperti
Kristus adalah benar;
8 barangsiapa yang tetap berbuat dosa, berasal dari Iblis, sebab
Iblis berbuat dosa dari mulanya. Untuk inilah Anak Allah
menyatakan diri-Nya, yaitu supaya Ia membinasakan
perbuatan-perbuatan Iblis itu.
9 Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa lagi;
sebab benih ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat
berbuat dosa, karena ia lahir dari Allah.
10 Inilah tandanya anak-anak Allah dan anak-anak Iblis: setiap
orang yang tidak berbuat kebenaran, tidak berasal dari Allah,
demikian juga barangsiapa yang tidak mengasihi saudaranya.

Powered by Telkomsel BlackBerry®