Sabtu, 21 November 2009

Penguasaan Diri: Mengatasi Kemarahan

Bacaan: 1 Petrus 4:7


Alkitab berjanji bahwa berkat Tuhan dan kehidupan yang akan diperintahkan Tuhan
kepada orang-orang yang mau belajar untuk hidup rukun dan damai [Mazmur
133:1-3], Belajar menguasai diri adalah salah satu faktor untuk hidup rukun dan damai
dengan orang lain.

Saya telah mengamati kehancuran hidup secara
emosional dan rohani disebabkan hanya karena kurangnya penguasaan diri.

Para hamba Tuhan yang dapat mengguncang dunia
dengan pemikiran-pemikiran mereka yang jenius telah jatuh karena tidak dapat
menguasai diri mereka sendiri. Para pemimpin Negara, pemimpin bisnis dan para tokoh
masyarakat yang memiliki kemampuan membentuk tujuan dunia telah jatuh ke dalam
masalah memalukan karena kurangnya penguasaan diri.

Alkitab berkata,"Kesudahan segala sesuatu sudah dekat, karena itu kuasailah dirimu dan
jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa." [1 Petrus 4:7].

Kemarahan adalah salah satu bidang kristis yang harus diatasi untuk dapat
menjalani kehidupan yang berhasil dan berbuah-buah bagi Tuhan.

Apakah Anda pernah benar-benar marah? Maksud saya, kemarahan yang membuat wajah
Anda merah, mata Anda membelalak, mulut Anda berbusa? Bagus – itu artinya
normal!

Kemarahan adalah perasaan kuat yang ditanamkan Tuhan ke dalam diri kita yang
digunakan untuk maksud-maksud atau tujuan yang membangun atau menghancurkan.

Apakah yang membuat Anda marah? Anda diperlakukan dengan tidak benar? Atau
seseorang memanfaatkan atau merugikan Anda? Atau seseorang yang telah memfitnah
sehingga Anda gagal mendapat promosi atau kenaikan pangkat? Atau seorang
sahabat mengkhianati Anda?

Saat Anda benar-benar marah, apakah Anda berdosa? Apakah semua kemarahan adalah
dosa? Apakah kemarahan bisa menolong Anda?

Alkitab berkata,"Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa"
[Efesus 4:26].

Kemarahan tidak menjadi masalah jika alasannya ilahi. Jadi pertanyaannya
menjadi: apakah motivasi kemarahan itu?

Kemarahan Ilahi:

Saat Yesus menyucikan Bait Allah, Dia adalah potret dari kemarahan yang benar
[Matius 21:12-13]. Yesus marah terhadap mereka yang telah menipu dan mencari
keuntungan pribadi dari orang-orang yang tulus hati hendak beribadah. Yesus
mengusir mereka semua dan membalikkan meja-meja penukar uang dan bangku-bangku pedagang
merpati.

Apakah pesan dari pemandangan ini? Apakah Yesus menyimpang dari karakter-Nya
yang lemah lembut dan penuh kasih? Apakah Yesus sudah kehilangan penguasaan
diri? Apakah Yesus berdosa? Jawabannya adalah TIDAK.

Pemandangan ini memiliki 2 [dua] pesan bagi kita:

Pertama, Kemarahan adalah bentuk ungkapan kasih yang paling
jelas apabila alasan kemarahan itu adalah benar.

Yesus yang penuh kasih dan belas kasihan menunjukkan kemarahan-Nya. Sambil
berkata kepada mereka:"Ada
tertulis: Rumah-Ku akan disebut rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang
penyamun." [Matius 21:13]

Ada saatnya
untuk meninggalkan ketenangan kita yang menyenangkan dan mengizinkan kemarahan
yang benar mendorong kita untuk bertindak secara ilahi.

Kita telah menyaksikan Iblis menelan anak-anak kita dengan narkoba, seks bebas,
pemberontakan, menghancurkan pernikahan-pernikahan kita, serta merusak keuangan
dan kesehatan kita tanpa protes.

Kita harus menumpahkan kemarahan yang benar seperti yang diungkapkan dalam
perkataan Raja Daud:"Allah bangkit, maka terseraklah
musuh-musuh-Nya." [Mazmur 68:2].

Tuhan tidak menciptakan kita untuk menjadi pecundang bagi musuh kita. Dia
menciptakan kita untuk menjadi pemenang bahkan lebih dari pemenang. Kita adalah duta besar Yesus Kristus di bumi.

Contoh Kemarahan Ilahi:

Suatu hari Abraham Lincoln berdiri di dermaga New Orleans, ia menyaksikan seorang wanita
berkulit hitam dijual sebagai budak, dengan meninggalkan suami dan putranya. Lincoln meremas tangannya
hingga berdarah. Sementara ia berpikir, itu salah. Dan jika aku mendapat
kesempatan, aku akan menghentikannya.

Kemarahan hatinya meledak menjadi sebuah tekad yang kuat untuk menghentikan
perbudakan itu. Ketetapan hatinya yang membuatnya tabah menghadapi kegagalan
demi kegagalan dalam hidupnya. Namun pada akhirnya, ia menjadi Presiden Amerika
Serikat.

Abraham Lincoln telah mencapai impiannya. Sekarang ia memiliki kekuatan untuk
mengakhiri perbudakan. Maka saat ia menjadi Presiden Amerika Serikat, ia
menandatangani Proklamasi Persamaan Hak, yang mengakhiri perbudakan. Itulah
bentuk kemarahan yang benar.

Kedua, Pemandangan di Bait Allah ini adalah bahwa kemarahan
itu bukan perasaan berdosa.

Sama halnya tidak ada raket yang buruk yang ada hanyalah pemain yang buruk.
Tidak ada perasaan yang buruk, yang ada hanyalah orang yang buruk. Semua
perasaan diberikan oleh Tuhan.

Setiap bayi lahir dengan emosi kemarahan. Jika Anda lalai memberinya makan,
lihatlah betapa marahnya ia. Tetapi, saat bayi itu berusia 30 tahun, ia
seharusnya belajar untuk mengekang kemarahannya jika makan malam tidak segera
disiapkan.

Ada 2 [dua]
jenis kemarahan yang dapat merusak:

Pertama, Kemarahan yang tidak
terkendali:

Saya pernah menyaksikan seseorang membanting raket tennis sampai hancur karena
pukulannya melenceng keluar dari garis lapangan. Apakah itu kesalahan dari
raket tennisnya? Tentu saja tidak. Bisakah kemarahan yang tidak terkendali itu
mengarahkan kembali pukulan tersebut kembali sehingga bolanya itu jatuh ke
dalam lapangan? Tentu saja tidak bisa.

Saya mempelajari ada beberapa akibat kemarahan yang tidak terkendali:

Pertama, kemarahan yang tidak terkendali
dapat menganggu kesehatan dan membunuh diri kita sendiri

Tahukah Anda mengapa Beethoven menjadi tuli?
Karena kemarahannya yang tidak terkendali yang menyebabkan ketuliannya. Sahabat
saya bercerita bahwa seorang sahabatnya mendadak meninggal dunia setelah
menumpahkan kemarahannya yang tidak terkendali terhadap istrinya.

Para dokter dewasa ini memberitahukan kita
bahwa kemarahan yang tidak terkendali dapat memproduksi racun-racun kimiawi di
dalam tubuh kita yang dapat menyebabkan penyakit-penyakit seperti: kanker dan
jantung.

Kemungkinan orang-orang mudah menumpahkan kemarahannya cenderung beresiko
mengalami stroke lebih besar daripada orang-orang yang hidup dalam damai Tuhan
di hati dan pikirannya.

Orang-orang yang menyimpan kemarahan sering kali tidak menyadari bahwa mereka
sedang meracuni kehidupan mereka sendiri. Jika kita terus memendam kemarahan,
kita tidak sedang menyakiti orang lain, kita tidak sedang menyakiti perusahaan
atau boss yang memperlakukan kita tidak adil, kita tidak sedang menyakiti
Tuhan. Kita hanya menyakiti diri kita sendiri.

Saat Anda mengizinkan diri Anda diri Anda hidup dalam kemarahan yang tidak
terkendali, Anda sedang berdosa. Anda juga nyatanya sedang membunuh diri Anda
sendiri.

Kedua, Kemarahan yang tidak terkendali
dapat menghancurkan harapan dan impian Anda.

Ketidakmampuan Musa untuk mengendalikan kemarahannya pertama kali muncul saat
ia membunuh orang Mesir yang sedang memukuli seorang budak Ibrani.

Kemarahan ini muncul kembali saat Musa turun dari Gunung
Sinai dan menyaksikan orang Israel
sedang menyembah patung lembu emas. Dalam kemarahan yang tidak terkendali, ia
melemparkan loh-loh kesepuluh perintah Allah dan menghancurkan sampai
berkeping-keping.

Dalam masing-masing kejadian ini kemarahan Musa tersebut benar seperti
kemarahan Yesus di Bait Allah. Tetapi, Musa menanggapi dengan kemarahan yang
tidak terkendali.

Kemarahan yang tidak terkendali jenis ini muncul ketiga kalinya dalam Bilangan
20, saat Allah memerintahkan Musa untuk "berbicara kepada Bukit Batu" sehingga
air yang sangat dibutuhkan umat Israel
akan keluar darinya. Musa sangat marah terhadap pemberontakan umatnya sehingga
ia memukuli bukit batu itu dengan kemarahan.

Kekecewaannya pada kelakuan orang lain mempengaruhi hubungannya dengan Allah.

Apakah Anda juga demikian? Jika demikian, ingatlah tanggapan Allah terhadap
tindakan kemarahan terakhir Musa yang tidak terkendali itu. Allah melarang Musa
masuk ke tanah perjanjian bersama orang Israel.

Tiga kali dalam Kitab Ulangan, Musa berdoa supaya Allah mengubah pikiran-Nya
dan Allah berkata bahwa penghakiman-Nya akan tetap berlaku.

Kemarahan Musa yang tidak terkendali telah membunuh impiannya. Kemarahan menghalangi
penggenapan tujuan ilahinya!

Apakah impian-impian Anda telah dihancurkan oleh kemarahan Anda yang tidak
terkendali? Apakah pernikahan Anda telah disalibkan oleh kata-kata penuh
kebencian, yang diucapkan dalam kemarahan? Apakah hubungan Anda dengan
anak-anak Anda telah dihancurkan oleh kata-kata kemarahan? Apakah hubungan Anda
dengan orang percaya lain telah rusak karena kemarahan Anda yang tidak
terkendali?

Inilah saatnya bertobat! Kemarahan dapat menghancurkan impian dan masa depan
hidup Anda.

Ketiga, Kemarahan yang tidak terkendali
dapat memisahkan hubungan antar keluarga.

Kemarahan yang tidak terkendali memisahkan anak sulung dari ayahnya yang penuh
kasih. Saat adiknya yang bungsu, anak yang hilang, kembali setelah
menyia-nyiakan hidupnya dalan uang ayahnya di negeri yang jauh, ayahnya yang
mengampuni dia menyembelih anak sapi yang tambun untuk merayakannya. Ini
membuat sang kakak begitu marah sehingga ia tidak mau bergabung dengan pesta
itu. Ia merasa bahwa ia telah diperlakukan tidak adil karena ia telah setia
kepada ayahnya namun ia tidak pernah menerima pesta semacam itu.

Kemarahan sisulung memisahkan dirinya dari ayah dan adiknya. Bagaimana dengan
Anda? Apakah kemarahan Anda memisahkan diri Anda dari orang-orang yang Anda
kasihi?

Ingat, kemarahan membuat Anda hidup dalam "kesepian."

Kedua, Kemarahan yang salah arah:

Kita barangkali lebih sering mengalami kemarahan yang salah arah daripada
kemarahan yang tidak terkendali.

Suatu kali saat saya menonton televisi, saya menonton adu banteng jantan. Saya
melihat seorang pria dengan sebilah pedang di tangannya menusuk tubuh
banteng itu sampai berdarah-darah, hal itu membuat banteng itu mengamuk.

Dalam kemarahan banteng itu mengejar kain merah yang dipegang oleh sang
matador. Banteng itu mengabaikan sumber masalahnya yang sesungguhnya: tetapi
kemudian banteng jantan itu berpaling ke kanan dan melempar matador itu
beberapa meter ke udara. Sapi jantan itu akhirnya menyerang masalah yang
sebenarnya.

Apakah yang membuat Anda marah? Apakah Anda sedang menyerang masalah yang
sebenarnya atau gejala-gejala masalah itu? Apakah Anda secara membabi buta
menyerang selembar jubah merah atau menyelesaikan masalah itu?

Kapan kemarahan itu membuat kita berdosa? Saat kita marah tanpa sebab. Adalah
salah jika kita menjadi pahit hati atau benci dan mengucapkan kata-kata yang
penuh kebencian kepada orang lain.

"Sipemarah
membangkitkan pertengkaran" [Amsal 15:18], "Lebih baik tinggal di padang gurun daripada
tinggal dengan perempuan yang suka bertengkar dan pemarah" [Amsal
21:19]

Bagaimana kita menguasai kemarahan yang tidak terkendali dan salah arah?

Pertama, Kita harus dipenuhi oleh Roh Kudus

Kita tidak dapat menguasai emosi kita dengan kekuatan kemauan kita sendiri,
namun sekali Roh Kudus menguasai kita, perasaan-perasaan kita akan terkendali.

Rasul Paulus menulis dalam Galatia
5:22-23,"Tetapi buah Roh ialah: kasih,
sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetian,
kelemahlembutan, penguasaan diri." Yang adalah lawan dari kemarahan dan
kehilangan penguasaan diri.

Buah Roh hanya mungkin jika Anda hidup dalam, Roh. Ini merupakan proses setiap
hari dalam hal mati terhadap diri sendiri dan meminum air
hidup firman Tuhan.

Apakah Anda penuh dengan Roh atau penuh dengan diri sendiri? Apakah Anda
digerakkan oleh Roh Kudus atau dikendalikan roh jahat?

Kedua, Kita harus belajar untuk
memaafkan pelanggaran.

"Akal budi membuat seseorang panjang
sabar dan orang itu dipuji karena memaafkan pelanggaran." [Amsal 19:11]

Ada kisah
tentang seorang anak laki-laki, ayah dan ibunya sering bertengkar dihadapan
anak mereka lalu mereka memutuskan untuk bercerai. Ibu anak ini menikah lagi
dengan orang lain.

Dalam keluarga yang baru ini, anak ini sering melihat ibunya disiksa oleh ayah
tirinya. Kejadian ini membuat dia sangat marah terhadap ayah tirinya itu.
Ketika ia beranjak dewasa, anak laki-laki ini masuk sekolah jurusan seni.
Gurunya pun yang berasal dari suku yang sama dengan ayah tirinya -mengejek dia
dengan berkata bahwa ia tidak masuk hitungan. Kemudian anak laki-laki ini
menendang gambar itu dan keluar dari sekolah tersebut dalam kemarahan.

Ia memendam kemarahan terhadap suku ayah tirinya. Kemarahannya mendorong
dirinya untuk belajar menjadi orang yang hebat. Setelah ia menjadi orang yang
hebat, ia membalas semua perbuatan ayah tirinya dan gurunya. Ia membunuh dengan
sadis suku tersebut sebagai ungkapan kemarahannya. Ia membunuh 6 juta orang
dari suku itu. Anda mau tahu siapa anak laki-laki ini? Dia adalah Adolf Hitler!

Kristus adalah teladan kita tentang
bagaimana menanggapi ketidakadilan. Setelah menyucikan Bait Allah dengan
Murka Allah. Ia secara pribadi diserang oleh pemerintah Romawi saat Ia
ditangkap dan dituduh secara tidak adil.

Para prajurit menampar muka-Nya, meludahi-Nya,
mengolok-olok-Nya dan memahkotai-Nya dengan mahkota duri. Tanggapan-Nya? "Tetapi
Yesus sama sekali tidak menjawab lagi." [Markus 15:5]. Yesus berdiri di
depan Pilatus tanpa berkata apapun, bahkan
walaupun Ia memiliki kuasa di sorga dan di bumi.

Itu adalah kemarahan yang terkendali.

Amsal 16:32 berkata,"Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan,
orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota."

Apakah seseorang melukai perasaan Anda 10 tahun yang lalu, dan Anda masih belum
bisa melupakannya? Lupakanlah kesalahan orang lain itu, dan kehidupan Anda akan
bahagia.

Ketiga, Jangan berteman dengan
orang-orang yang lekas marah.

Amsal 22:24-25 berkata,"Jangan
berteman dengan orang yang lekas gusar…supaya engkau jangan… memasang jerat
bagi dirimu sendiri."

Pemudi, jika Anda berpacaran dengan seorang pemuda yang dikuasai kemarahan yang
tidak terkendali, tinggalkanlah dia hari ini. Pemuda, jika Anda berpacaran
dengan seorang pemudi yang suka marah tidak terkendali, cinta pada pandangan
pertama disembuhkan oleh pandangan kedua. Teruslah mencari!

Ayah, apakah Anda mempunyai seorang anak yang
beralih dari kemarahan yang satu kepada yang lainnya? Salomo menyarankan
nasehat ini: "Kebodohan melekat pada hati orang muda, tetapi tongkat didikkan
akan mengusir [kebodohan] itu daripadanya." [Amsal 22:15].

Saat saya masih kanak-kanak dan kehilangan penguasaan diri, ibu saya selalu
menolong saya dengan sabuk di tangannya. Saya belajar menguasai kemarahan saya.

__________________________________________________
Apakah Anda Yahoo!?
Lelah menerima spam? Surat Yahoo! memiliki perlindungan terbaik terhadap spam
http://id.mail.yahoo.com

The Power of Love

Kidung 8:6,"…Cinta kuat seperti maut…"

Kekuatan Cinta diumpamakan dengan seperti kekuatan maut. Kita bisa membayangkan
betapa . semuanya tidak berdaya.

Seperti itulah besarnya kekuatan cinta.

Yesus Kristus itu bukan Pribadi yang suka
menyerang;

Yesus tidak pernah mengajar, "bunuh setiap orang yang menolak Aku dan
pengajaran-Ku; hancurkan mereka dan binasakan sampai ke anak cucunya." Yesus
tidak pernah mengajarkan orang menjadi ofensif secara fisik.

Yesus Kristus juga bukan Pribadi yang suka membela diri saat diserang atau
dianiaya.

Hal itu dibuktikan saat Dia ditangkap; Ia tidak melawan dan mengirim 12 [dua
belas] pasukan malaikat-Nya untuk menolong Dia saat dianiaya oleh tentara
Romawi. Ia diam dan tidak membela dirinya.

Tetapi Yesus adalah Pribadi yang penuh kasih. Dia menggunakan kekuatan kasih
untuk menghadapi setiap serangan yang dilemparkan ke atas diri-Nya. Puncak dari
seluruh serangan selama masa hidupnya adalah dari Getsemani sampai Golgota.

Yesus menghadapinya dengan kasih kepada Allah Bapa semua serangan Iblis dan Ia menghadapi dengan Roh-Nya dan puncaknya
adalah saat roh maut menghantam diri-Nya dan Ia berkata, "Ya, Bapa ke dalam
tangan-Mu Kuserahkan Roh-Ku." dan pada saat Ia menyerahkan nyawa-Nya, tubuh-Nya
mati, Iblis berpikir bahwa ia telah mengalami kemenangan namun di alam maut,
justru Yesus mematahkan roh maut dan mengalami kebangkitan pada hari ketiga
sebagai tanda kemenangan-Nya atas Iblis; Dosa dan Maut.

Kunci kemenangan Kristus adalah Ia menggunakan Kasih dengan cara yang tepat.
Kita dapat melihat betapa dahsyatnya kekuatan kasih itu. Kekuatan yang sanggup
menghancurkan Iblis dan perbuatan-perbuatannya.

Contoh: Kedahsyatan kekuatan Kasih [2 Raja-Raja 6:14-23]

Raja Aram marah besar karena
setiap rencananya selalu diketahui oleh Elisa sehingga ia bermaksud untuk
mengepung dan menyerang Israel
dengan mengirim tentara Aram
dalam jumlah yang besar.

Bagaimana Elisa menghadapi serangan tentara Raja Aram itu?

Ia tidak ofensif dan juga tidak defensif tetapi absorsif yaitu menyerapnya
dengan Kasih...

Ia berdoa agar Tuhan membutakan mata tentara Aram yang sedang mencarinya; lalu
membawa mereka masuk ke dalam benteng Samaria; begitu mereka masuk orang Israel
mengepung mereka, lalu Elisa berdoa agar Tuhan membuka mata mereka; mereka
sadar bahwa mereka sedang terkepung oleh orang Israel.

Raja Israel
berkata, "apakah kita bunuh saja mereka itu?" namun Elisa berkata, "Jangan,
apakah kamu biasa membunuh orang yang ditawan?" Apakah yang dilakukan oleh
Elisa terhadap tentara Aram
yang besar itu?

Mereka dipatahkan oleh Kasih... mereka diberikan makanan dan minuman dan
diberikan Kasih yang tulus; setelah puas dan kenyang, mereka disuruh pulang ke
negerinya.

Alkitab mencatat, "Sejak saat itu, tidak ada lagi gerombolan tentara Aram yang memasuki Israel..."

Sekali lagi, kasih membuktikan kekuatannya. Tentara Aram
ditaklukkan oleh kasih yang tulus dan mereka tidak pernah memasuki wilayah Israel
lagi.

Jadi, hidup itu perlu disiasati dengan strategi Ilahi. Strategi ilahi untuk
menyiasati kehidupan adalah hidup di dalam kasih Allah.

Kasih nampaknya lemah justru itulah strategi yang digunakan Allah untuk
membinasakan Iblis dan perbuatan-perbuatannya.

Ketika Tentara Amerika berada di Afganistan, mereka diperintahkan untuk
menjatuhkan bom di depan pintu gua tempat persembunyian tentara Taliban bukan
di atas guanya untuk menghancurkan musuh.

Para pilot pesawat tempurnya berpikir itu
adalah tindakan bodoh dan aneh, bagaimana mungkin musih bisa dikalahkan dengan
menjatuhkan bom di luar sasaran.

Tetapi Komandan mereka memiliki strategi khusus yaitu dengan menjatuhkan bom di
luar sasaran maka mereka dapat menghancurkan musuh melalui senjata kimia itu
yang dapat mengisap oksigen sampai radius 20 km hingga tewas tanpa menghancurkan senjata
dan semua dokumen yang diperlukan.

Dalam 1 Korintus 13:8 mengatakan "Kasih Allah tidak berkesudahan..." dengan
kata lain Kasih Allah tidak pernah gagal, pudar, lenyap atau berakhir. Karena
Allah adalah kasih, maka kalau kasih dapat lenyap, Allah pun dapat lenyap.

Namun, Allah tidak pernah gagal, dan kasih-Nya juga demikian. Oleh karena itu
betapa pentingnya hidup di dalam kasih Allah.

Bagaimana mengembangkan dan hidup di dalam kasih Allah itu?

Pertama, Kita harus belajar untuk merasakan dan memahami Kasih Allah

"Sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta
berdasar di dalam kasih. Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala
orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan
dalamnya kasih Kristus." [Efesus 3:17-18]

Sebelum kita bisa mengasihi orang lain, kita harus bisa merasakan dan memahami
betapa dalamnya Tuhan mengasihi kita.

Mengapa Tuhan menginginkan kita untuk belajar merasakan dan memahami betapa
besar kasihNya lepada kita?

Sebab "Kita dapat mengasihi karena Allah telah lebih dahulu mengasihi kita." [1
Yohanes 4:19].

Cobalah belajar untuk melihat besarnya kasih Allah: Dia telah menebus semua
dosa dan menanggung semua sakit penyakit kita. Dia telah mengangkat derajat
hidup kita. Dia telah memberikan orang-orang yang baik dan mengasihi kita.

Mengapa begitu penting merasakan kasih Tuhan? Karena orang-orang yang tidak
dikasihi [merasa dikasihi] cenderung sulit mengasihi orang lain.

Ketika seseorang tidak merasakan kasih yang tulus dan sejati, ia cenderung
tidak bisa mengasihi orang lain, sebab kita tidak bisa memberikan apa yang
tidak kita miliki.

Seorang anak yang merasa dikasihi oleh keluarganya dan orang-orang di
sekitarnya, ia cenderung bisa menghargai dan bersikap ramah dengan orang lain.

Sebaliknya seorang anak yang tidak merasa dikasihi, ia cenderung menarik
perhatian yang negatif, bersikap kasar dan kurang menghargai orang lain.

Belajar mengasihi berarti belajar untuk merasakan dan memahami betapa lebarnya
dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus.

Kedua, Kita harus belajar berpikir dengan pikiran Kasih

"dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri,
tetapi kepentingan orang lain juga.

Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang
terdapat juga dalam Kristus Yesus." [Filipi 2:4-5]

Apakah arti berpikir dengan pikiran Kristus?

Kita harus belajar untuk mulai memberikan perhatian kepada kebutuhan orang
lain; masalah-masalah orang lain; keinginan dan harapan orang lain; atau
luka-luka orang lain bukan hanya menaruh perhatian kepada kepentingan sendiri.

Faktanya, orang yang terluka cenderung melukai orang lain.

Jika seseorang melukai kita sesungguhnya ia melakukan itu karena ia sedang
terluka. Apa yang perlu kita lakukan untuk menghadapi mereka?

Seharusnya, kita tidak hanya memperhatikan kelemahan atau kejahatan mereka
tetapi kita pun harus belajar untuk memikirkan alasan perbuatannya dengan cara
melihat kebutuhan mereka. Kita harus belajar melihat kebutuhan mereka. Mereka
butuh dikasihi, dihargai atau diterima.

Saya pernah mendapat cerita tentang seorang Pendeta, ketika ia sedang berjalan
kaki menuju kediamannya tiba-tiba dihadang oleh seorang laki-laki sambil
menodongkan pisau. Laki-laki itu meminta semua uang dan benda berharga.

Pendeta itu dengan tenang dan lembut berkata, "Saya tidak membawa uang yang
cukup untuk diberikan kepada Anda namun apabila Anda berkenan datanglah ke
rumah saya, di sana
saya masih menyimpan sejumlah uang dan saya akan berikannya kepada Anda.
Laki-laki itu tidak dapat tahan menghadapi Pendeta itu, ia berlutut sambil
menangis dan memohon maaf atas tindakannya. Namun demikian, Pendeta tersebut
tetap mendesaknya untuk menerima sejumlah uang yang disimpannya itu. Pada akhirnya,
laki-laki itu mengambil keputusan untuk bertobat dan mempercayai Yesus sebagai
Tuhan dan Juruselamatnya.

Pendeta itu telah berpikir dengan pikiran kasih. Ia berhasil melihat tindakan
laki-laki itu sebagai reaksi dari kebutuhan hidup yang tidak dapat di atasinya.

Namun, ketika ia berpikir dengan pikiran kasih justru ia telah menyelamatkan
jiwa laki-laki tersebut.

Seringkali, kita menemukan orang-orang yang menjengkelkan.

Kalau kita mau belajar untuk berpikir dengan pikiran kasih, kita akan berpikir
bahwa justru merekalah orang-orang yang paling membutuhkan kasih dari kita.

Kita tidak boleh mengatasi dengan kemarahan dan membalas mereka yang telah
menjengkelkan kita. Kemarahan kita justru akan menguatkan cengkraman Iblis atas
hidup mereka.

Belajarlah berpikir dengan pikiran kasih; ucapkanlah perkataan yang mengandung
damai sejahtera dan perkataan berkat untuk mereka sebab semua itu akan
melemahkan cengkraman Iblis atas hidup mereka.

Kita tidak bisa mengubah perasaan kita tetapi kita dapat mengubah cara berpikir
kita tentang orang yang telah menjengkelkan kita.

Ketika kita mengubah cara berpikir mengenai seseorang secara bertahap kita
sedang mengubah perasaan hati kita terhadap orang tersebut.

Kita harus belajar mengganti cara berpikir yang hanya memperhatikan kelemahan,
kejelekan atau kejahatan orang tersebut sebaiknya kita mulai berpikir mengenai
kebutuhan-kebutuhannya, semuanya itu akan mengubah perasaan kita, menjadi
perasaan yang penuh kasih.

Mulailah belajar berpikir dengan pikiran kasih.

Ketiga, Kita harus belajar mengampuni musuh-musuh kita.

"Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain
apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan
telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian." [Kolose 3:13]

Adalah tidak mungkin untuk mengasihi seseorang dengan sungguh-sungguh dan pada
saat yang sama jengkel atau dendam dengan orang lain. Hati
kita harus utuh.

Kita tidak bisa sungguh-sungguh mengasihi pasangan kita jika kita masih marah
dengan orang tua kita. Kita tidak bisa mengasihi anak-anak kita jika kita masih
marah dengan pasangan kita.

Kita tidak bisa memberikan kasih yang sepenuhnya saat hati kita tercemar dengan
racun kebencian.

Kita mungkin masih mempunyai masalah dengan masa lalu dan menyimpan dendam dan
kebencian terhadap seseorang. Inilah penyebab mengapa kita tidak bisa mengasihi
pasangan kita.

Apabila kita mau belajar mengasihi orang lain sekarang, kita harus menutup
pintu terhadap kekecewaan dan kepahitan masa lalu. Hanya
ada satu caranya yaitu mengampuni.

Ampunilah orang-orang yang telah melukai diri Anda. Pengampunan adalah untuk
kepentingan Anda sendiri bukan karena dia layak untuk diampuni.

Apabila Anda melakukannya maka hati Anda akan pulih dan Anda dapat mengasihi
sepenuh hati orang-orang yang Anda kasihi.

Penutup:

Kasih Allah adalah kekuatan yang dahsyat. Salib
Kristus adalah wujud dan bukti kasih Allah.

Kasih yang telah membinasakan perbuatan Iblis yaitu Dosa, kutuk, sakit
penyakit, kelemahan, kemiskinan, kematian.

Kunci mengalami kemenangan dan kebahagiaan adalah memiliki kasih Allah dan
hidup di dalam kasih-Nya.

Anda harus belajar untuk merasakan Kasih dengan mengakui betapa besar kasih
Anda kepada Allah dan firman-Nya; berpikir dengan pikiran kasih dan belajar
mengampuni.

__________________________________________________
Apakah Anda Yahoo!?
Lelah menerima spam? Surat Yahoo! memiliki perlindungan terbaik terhadap spam
http://id.mail.yahoo.com